KANAL 4Diesel

JIP - Sejak ditemukan prinsip kerja mesin berdasarkan thermodinamika oleh Rudolf Diesel pada 1893, kinerja mesin dengan putaran rendah namun efisien ini semakin digemari untuk melakukan pekerjaan berat. Seperti untuk kapal laut, mesin pertambangan dan truk pemakaian  mesin diesel yang bekerja berdasarkan kompresi, tanpa percikan api seperti mesin bensin jadi lazim.

Seiring perkembangan zaman, mesin diesel pun berkembang dengan teknologi yang semakin maju pula. Hingga saat ini, mesin common-rail diesel jadi salah satu sumber tenaga penggerak favorit bagi produsen mobil. “Mesin common-rail diesel ini sudah seperti mesin bensin kerjanya,” bilang Usman Adhie, Service Advisor Tunas Toyota.

Tak seperti mesin diesel konvensional yang menggunakan fuel distributor berupa pompa bertekanan yang menyalurkan solar ke injektor, yang umumya disebut mekanik ‘Bosch Pump’ (karena merek Bosch banyak digunakan). Common-rail diesel saat ini, menggunakan ‘rail’ yang berisi solar bertekanan dari tangki bahan bakar, kemudian dimasukkan ke dalam ruang bakar melalui semburan PiezzoElectric Injector yang tekanannya sangat tinggi.

Tekanan pada injektor generasi ketiga ini bisa mencapai 3.000 bar (44.000 psi). Sangat besar tekanannya, bukan? “Sebenarnya mesin diesel itu enggak banyak perawatan, namun yang terpenting bagian yang berhubungan dengan injektornya itu,” terang Taqwa Suryo Swasono dari bengkel Garden Speed.

Kalau sudah berhubungan dengan injektor bertekanan tinggi itu, tentunya yang harus diperhatikan adalah solar yang mengalir dalam rail dan disemburkan oleh injektornya.

Apa saja sih yang sebaiknya diperhatikan? Berikut adalah hal yang sebaiknya dilakukan (Do) dan jangan dilakukan (Don’t) pada mesin Common-rail Diesel ini.

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan :

  1. Menggunakan jenis bahan bakar yang tingkat sulfur solarnya rendah. Lantaran Sulfur tinggi, bisa menyebabkan endapan pada solar dan akan menghambat kinerja injektor bertekanan tinggi.
  2. Menggunakan filter solar yang orisinal. Filter orisinal sudah memperhitungkan besaran mikron yang ada pada saringan untuk menyaring solar yang akan masuk ke dalam rail dan injektor.  Ganti filter solar secara berkala agar kualitas solar selalu terjaga kebersihannya.
  3. Memperhatikan indikator Sedimentor. Air merupakan musuh utama pada saluran bahan bakar solar. Karena bisa menyebabkan karat pada injektor dan membuat saluran mampat. Jangan menunda menguras sedimentor ketika indikator sudah menyala.
  4. Menjaga kualitas pelumas. Mesin common-rail bekerja pada putaran cukup tinggi dibandingkan dengan mesin diesel konvensional. Gunakan pelumas yang sesuai tingkat kekentalannya dan penggantian berkala sangat perlu dilakukan.

Secara keseluruhan memang tampak perawatan mesin common-rail ini seperti melakukan perawatan pada mesin bensin. Apalagi, mesin diesel modern ini kinerjanya sudah diatur oleh sistem manajemen mesin (ECU) yang bekerja berdasarkan sensor-sensor yang ada di tunggangan.

Hampir bisa dikatakan mesin ini bebas perawatan, sepanjang hal-hal di atas diikuti dengan baik. Tetapi, meski begitu masih ada pantangan yang perlu diperhatikan pemilik mobil dengan mesin common-rail diesel itu.

Berikut adalah hal-hal yang sebaiknya dihindari.

  1. Memanaskan mesin terlalu lama. Hal ini hanya akan membuat bahan bakar terbuang percuma. Kinerja mesin sudah dikontrol oleh ECU yang mengatur suplai bahan bakar dan udara berdasarkan suhu mesin yang ada dan posisi throttle saat itu. Jadi, cukup hidupkan mesin tak lebih dari semenit tunggangan pun sudah bisa dikendarai.
  2. Membiarkan filter solar kotor terlalu lama. Ini yang perlu diperhatikan ketika pengguna kerap menggunakan bahan bakar solar yang kadar sulfurnya tinggi.
  3. Demi keselamatan injektor yang harganya tak murah, sebaiknya mengganti filter solar lebih cepat dari jadwalnya. Misalnya, ketika disarankan 100 ribu kilometer, untuk penggunaan dengan solar sulfur tinggi (setara biosolar) sebaiknya diganti tiap 40 ribu kilometer.
  4. Mengisi bahan bakar ketika sisa seperempat tangki. Hal ini tak perlu dilakukan, hingga bahan bakar dalam tangki ludes pun tak perlu khawatir mesin akan ada ‘angin palsu’ seperti pada diesel konvensional.
  5. Membiarkan soket kotor. Anggapan mesin diesel lebih tahan air, karena tidak ada sistem pengapian, untuk jenis common-rail sebaiknya agak dikesampingkan. Karena mirip dengan mesin bensin yang menggunakan ECU, banyak sensor yang dipakai untuk mengatur kinerja mesin. Sebaiknya perhatikan soket terpasang dengan baik, ketika ingin melakukan off-road.

 

Teks : Benny Averdi

Fotografi: Bimo S Soerjadi


Bengkel WILLYAMS RACING 4x4

Spesialis : Parts & ACCESSORIES

Jl. Laswi No. 87A Bandung. T: (022) 7330788

Bengkel Volcano Motor Sport

Spesialis :

Jl. Mohammad Toha 276 Bandung T: (022) 5205658

Bengkel Welirank 4x4

Spesialis :

Jl. Komando Hayam Wuruk 181 Petak Pacet Mojokerto, Jawa Timur
JIP [TV]
Video King Of The Hammers clip by JIP
JIP IMAGE
Modifikasi Off-road | Suzuki Escudo 1996
Modifikasi Off-road | Suzuki Escudo 1996
JIP TWITTER FEED
Review Produk