KANAL 4Event

JIP - Borneo Safari sudah bukan nama asing bagi penggemar off-road se-Asia Tenggara. Merupakan event tahunan internasional di wilayah Malaysia Timur, yang paling ditunggu-tunggu masyarakat setempat dan negara-negara sekitarnya, dan terlaksana berkat kerjasama dengan Persatuan Pacuan Empat Roda Sabah, serta mendapat dukungan penuh pemerintah setempat.

Ekspedisi tahun lalu mengitari kaki Gunung Trus Madi, gunung tertinggi kedua setelah Kinabalu. Sedangkan Borneo Safari kali ini, yang diadakan pada 2-8 November 2014 berlangsung di area konservasi Imbak Canyon, yang terkenal dengan air terjunnya.

Kali ini agak berbeda, karena JIP ikut terdaftar sebagai peserta, tergabung bersama tim Indonesia dengan 5 orang lainnya menggunakan 2 Fortuner yang kami juluki Duo Romantic Black. Kebetulan tim yang berada di mobil saya, Insu dan Teten baru kali pertama mengikuti event ini. Untuk tim yang satunya, Pakde Mamang, Ero dan Santo sudah 3 kali berturut-turut menjadi peserta Borneo Safari sejak 2012.

Sebuah tantangan dan pengalaman baru bagi saya, terjun di ajang Internasional yang sudah bertahan hingga 24 tahun ini. Pertanyaan besar ketika ditunjuk untuk tugas ini, adalah seberapa berat medan offroadnya?

 

Tag-On

Dengan dukungan dari GT Radial, Autotchem, Citilink, EFourWD dan FF Pro, kami berkesempatan untuk membawa nama Indonesia ke ajang Borneo Safari 2014. Peserta lainnya datang dari wilayah Sabah, Kuala Lumpur, Serawak, dan Brunei Darussalam. Jumlah peserta ada 267 orang dengan 89 kendaraan kelas Tag-On, dan 13 kendaraan kelas Competitor, termasuk 32 mobil untuk kendaraan support. Kami masuk dalam kelas Tag-On, yang rute off-roadnya lebih mirip CR alias country road di Indonesia.

Kebetulan 2 malam sebelum acara, tim kami sudah tiba di Kota Kinabalu. Lumayan masih ada waktu untuk menyiapkan stamina sebelum ekspedisi 8 hari. H-1 diisi dengan briefing dan scrutineering dari Anthony Wong sebagai ketua ekspedisi, Faez Nordin selaku ketua acara dan lainnya. Setelah acara selesai, kami menuju bengkel milik Hiew Min Kiyun, salah satu teman kami untuk mengecek kembali persiapan kendaraan.

Hari Pertama

Teng!! Pukul 07.00 pagi, kami sudah berada di lokasi start yang berada di Jalan Gaya atau lebih dikenal dengan Gaya Street, yang konon pusat bisnis Kota Kinabalu sejak ratusan tahun. Kami sengaja datang pagi untuk sarapan di sepanjang jalan Gaya sambil menikmati suasana sekitar, dan beramah tamah dengan sesama peserta lainnya. Sembari menunggu flag off, saya jalan-jalan di sepanjang jalan Gaya. Sekilas suasana Gaya Street, beberapa bangunan yang tampak di sekeliling pun masih menyisakan bangunan lama dengan banyak kenangan sejarah yang tersimpan. Setiap minggu, lalu lintas jalan ini ditutup dari pagi pukul 06.30 sampai pukul 13.00. Puluhan pedagang kaki lima menyajikan berbagai macam dagangan seperti kuliner, kerajinan tangan dari rotan dan kayu, barang antik, sepatu bahkan batik pun ada disini. Pertama menyusuri sepanjang jalan ini suasananya mirip dengan Malioboro, Jogjakarta.

Start mulai pukul 09.00 dan flag off dilakukan oleh Datuk Masidi Manjun selaku Menteri Pelancongan, Kebudayaan dan Alam sekitar, perwakilan dari CEO Isuzu Malaysia, Datuk Irene Charuruk selaku Sabah Tourism General Manager dan Faez Nordin sebagai ketua acara. Sesaat mendekati gate flag off, terdengar pembawa acara berseru "Participants from Indonesia!", para penonton bersorak dan tepuk tangan.

Saya bangga menjadi bagian Indonesia.

 

Hari Kedua

Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, tujuan pertama hari ini menuju Kota Marudu yang kami tempuh sekitar 1 jam. Konvoi grup C berjumlah 22 kendaraan, banyaknya persimpangan yang kami lewati membuat bingung beberapa peserta. Sehingga beberapa kali kami harus berhenti menunggu yang lainnya. Cuaca hari ini tak menentu, sebentar hujan deras, sebentar panas. Pemandangan kanan kiri didominasi pohon sawit. Mendadak kami berhenti karena kendaraan milik pria paruh baya yang akrab dipanggil Pakde Mamang sempat mengalami overheat, namun tak lama kami tancap gas lagi. Dua ratus kilometer sudah kami tempuh, indikator bensin sudah mengarah ke huruf E, waktunya menggunakan bensin cadangan. Tak ada SPBU yang dekat, sehingga kami harus siap dengan bensin cadangan.

Langit sudah gelap ketika kami sampai di Campsite 2 di daerah Telupid. Meski perjalanan hari ini tergolong biasa saja, setidaknya malam ini kami kemah di tepi sungai.

Hari Ketiga

Pukul 07.30 tenda sudah dikemas, kami beranjak lebih pagi dari hari sebelumnya karena harus mengisi bahan bakar. Untungnya daerah kami bermalam merupakan perkampungan, kami terbantu dengan bensin eceran. Meskipun harga bensin ecer disana dua kali lipat harga di Indonesia, kami tetap harus menyiapkan bensin cadangan. Nampaknya agen eceran yang kami beli termasuk terbesar di sini, karena mampu melayani permintaan bensin kami sampai full, termasuk bensin cadangan.

Yak, tujuan selanjutnya ke Imbak Canyon yang akan kami tempuh sekitar 4 jam lebih mengingat jalanan gravel. Setelah menempuh 3 jam kami kembali menemui perkampungan. Sepanjang jalan kami sering berpapasan dengan truk-truk besar mengangkut batang pohon. Sedangkan di bahu jalan, tak sedikit truk yang tak lagi terpakai, termasuk Landy Defender dan Toyota FJ series yang hanya teronggok begitu saja.

Papan nama menunjukkan Imbak Canyon masih 33,5 km lagi. Imbak Canyon merupakan kawasan konservasi dengan luas 30.000 ha, dan sumber air yang mengalir ke sungai Kinabatangan, yang juga salah satu sungai terpanjang di Sabah. Lokasi Imbak Canyon tepatnya berada di antara Maliau Basin dan Danum Valley atau 300 km dari Kota Kinabalu.

Mendekati titik kumpul, kami harus menyeberangi sungai selebar kurang lebih 20 meter. Rupanya kedatangan grup kami terlambat jauh dengan grup lainnya. Kami harus menunggu grup lain melewati trek offroad yang seharusnya kita lewati. Mendengar kabar dari Tag On Manager, ternyata banyak peserta yang belum finish di trek offroad, sehingga kami harus menunggu. Labo, trip leader kami memutuskan untuk bermalam di sini.

Hari ini nampaknya kita belum beruntung mencicipi trek offroad. Peserta lain pun mulai keliatan kesal dan bosan menunggu satu momen tersebut. Dave peserta asal Australia yang bekerja di Brunei, rupanya mulai tak sabar dengan mengajukan beberapa pertanyaan ke trip leader. Emosinya pun mereda ketika Dave sudah bisa menerima alasan dari sang pemimpin.

Pukul 15.00 cuaca yang tadinya panas mencekam, tiba-tiba hujan deras sampai pukul 19.00. Harapan kami, besok grup C bisa offroad karena kondisi mulai menjenuhkan.

Hari Keempat

Pagi ini kami dikejutkan dengan kabar buruk bahwa kemarin sore, salah satu mobil media hanyut saat menyeberangi sungai akibat pasang, karena hujan deras. Untungnya awak mobil bisa segera dievakuasi dan semuanya selamat. Syukurlah! Kami pun lega.

Jarak yang begitu jauh membuat kami semakin sulit berkomunikasi dengan grup lain. Lagi-lagi kami harus stand by sampai mendapat keputusan dari trip leader. Kami mengisi jam kosong dengan foto-fotoan, ngobrol panjang lebar dengan peserta lainnya. Seperti hari-hari sebelumnya, santapan kami setiap hari adalah terik matahari yang begitu panas.

Asa mulai ada ketika mobil dari grup lain datang, kami mendapat kabar dari trip leader bahwa kami bisa rolling setelah semua grup berkumpul disini. Dan yang paling menjenuhkan, kami tidak tahu jam berapa bisa rolling. Sang surya tenggelam, para peserta dari grup lain mulai berdatangan. Setelah penantian panjang, kami pun akhirnya beranjak dari tempat itu pukul 18.30.

Tak jauh dari titik kumpul terakhir, Labo menginformasikan lewat radio komunikasi kalau kendaraan milik salah satu dari anggota grup kami mengalami trouble. Dengan berat hati, Labo memutuskan untuk tinggal, sedangkan peserta lain jalan terus menuju campsite Hitachi. Hong Kong Wee akhirnya take over memimpin trip.

Hujan deras mengiringi perjalanan, tanah merah yang basah membuat jalan semakin licin, belum lagi jalanan yang naik turun. Terdengar suara di radio "all participants slow down..slow down!", suara Hong Kong Wee. Hujan tak kunjung reda sampai akhirnya kami tiba di campsite Hitachi. Kami bergegas membuka tenda.

Hari Kelima

Hangat matahari menyambut kami pagi ini. Suara langkah kaki mendekati camp kami, Faez Nordin menghampiri kami "Tim Indonesia hari ini official hardcore, kita akan rolling tengah hari", ucap sang ketua acara Borneo Safari 2014. Dalam batin saya, inilah saatnya! Yeaaayy! Di kalangan peserta Borneo Safari, offroad mereka sebut dengan istilah hardcore. Meski sebenarnya hari ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu, namun dengan berat hati kami harus berpisah dengan grup. Sisa dari grup kami harus menunggu peserta lainnya.

Selepas tes adrenalin di trek offroad, kami tim Indonesia bergabung dengan grup E yang berasal dari Kota Kinabalu. Malam ini campsite berada di Maluah, yang lokasinya tak jauh dari sungai. Wah bisa mandi neh nanti, hehehe. Hiew Min Kiyun salah satu teman Santo mengenalkan kami ke peserta yang lain. "Ajak teman-teman Indonesia makan ya", ucap Om Kiyun dengan ramah sebelum beranjak mandi. Segelas kopi sembari ngobrol dengan teman-teman dari grup E. Puas rasanya hari ini.

Malam tak berlalu begitu saja, peserta dari grup lain rupanya tak bisa tinggal diam melintasi trek offroad yang tak jauh dari campsite. Lumayan ada tontonan malam ini.

 

Hari Keenam

Kabut menyelimuti campsite sepanjang malam sampai bangun pagi. Segarnya! Selepas sarapan, satu per satu peserta mulai turun ke jalur offroad. Antrian panjang pun dimulai sebelum menyeberangi sungai. Tanah sudah menjadi bubur, sudah hancur lebur, tak bersahabat untuk dilewati. Para peserta gotong royong menutup lumpur dengan bebatuan supaya bisa mendapatkan traksi saat melewati jalur ini.

Terpuaskan dengan trek offroad, saatnya cuci kendaraan di sungai, sekalian istirahat makan siang. Langsung tancap gas lagi menuju campsite berikutnya. Senang sekaligus lelah, kami sampai di Taliwas, Lahad Dato pada malam hari.

Campsite kali ini berada di area kantor kehutanan, kepala staff di situ menghampiri grup kami. Sambil melihat-lihat dua kendaraan dari Indonesia, kepala staff menunjuk kendaraan Pakde Mamang dan berkata,"Ini tahun lalu mobilnya warna putih ya?"dengan nada Melayu. Dengan ramah Pakde Mamang menjawab "Iya Pak". Diam-diam rupanya Pakde punya penggemar di luar sana.

Seperti rutinas kami setiap malam, sehabis makan saya bergegas mandi di sungai sebelum malam semakin kelam. Sungai pun sudah menjadi tempat mandi favorit saya. 

 

Hari Ketujuh

Pukul 07.30 kami sudah beranjak pergi, karena kami masih berada di area konservasi hutan lindung, kami harus melapor ke setiap pos yang kami lewati. Sampai daerah Bandar Sri Perdana, kami langsung menuju SPBU. Dilanjutkan dengan makan pagi bersama-sama grup E. Tak sabar menuju camp terakhir perjalanan, kami pun menyempatkan singgah ke daerah Telupid, dimana kebanyakan penduduk di sini berasal dari Jawa. Salah satu penjual martabak ternyata orang Malang, jauh-jauh ke sini ketemu orang Jawa juga.

Senja mulai tenggelam ketika kami sampai di camp Mammut, bergegas saya mengabadikan duo romantic black. Malam ini, kami tim Indonesia diajak bergabung untuk makan malam bersama dengan teman-teman dari Brunei. Dari menu ayam bakar, ikan bakar, ikan asin semua komplet di sini. Terimakasih Bu Ana untuk masakannya. Lezat!

 

Hari Kedelapan

Camp Mammut adalah campsite favorit saya sepanjang perjalanan ini. Pertama, karena lokasinya selisih satu bukit dengan gunung Kinabalu, kami berada di ketinggian 1478 mdpl. Saya bangun lebih pagi daripada hari-hari sebelumnya, sengaja ingin menikmati matahari terbit dan keindahan puncak gunung Kinabalu. Kapan lagi bisa ke sini? Jam 10.00 area ini sudah ditutup, kami segera beranjak pulang ke Kota Kinabalu.

Closing dinner dimulai pukul 19.00, wajah lega dan gembira terpancar dari para peserta Borneo Safari. Perjalanan yang kami tempuh sejauh kurang lebih 1200 km selama delapan hari terasa begitu cepat. Kalau tahun lalu Tim Indonesia mendapat predikat ini, sekali lagi kami mendapat award Furthest Over Lander. Menurut Faez Nordin selaku Ketua acara Borneo Safari 2014 tahun ini trek offroad lebih menarik "more hardcore", tegas pria satu ini.

Selalu banyak pelajaran yang bisa kami petik dari setiap perjalanan, toleransi dan respek terhadap sesama adalah bagian yang paling penting. Sebuah pertemanan adalah awal dari sebuah persaudaraan. Jalan kembali pulang ke Indonesia masih jauh, lets go home! Sampai jumpa Borneo Safari 2015.


Bengkel WILLYAMS RACING 4x4

Spesialis : Parts & ACCESSORIES

Jl. Laswi No. 87A Bandung. T: (022) 7330788

Bengkel Volcano Motor Sport

Spesialis :

Jl. Mohammad Toha 276 Bandung T: (022) 5205658

Bengkel Welirank 4x4

Spesialis :

Jl. Komando Hayam Wuruk 181 Petak Pacet Mojokerto, Jawa Timur
JIP [TV]
Video King Of The Hammers clip by JIP
JIP IMAGE
Modifikasi Off-road | Suzuki Escudo 1996
Modifikasi Off-road | Suzuki Escudo 1996
JIP TWITTER FEED
Review Produk