KANAL 4Event

JIP“Nanti dari lokasi hanya 20 kilometer jalan aspal, lalu masuk trek off-road… Nah, di trek nanti bakal ketemu handicap V, V, V, V, dan W… Begitu seterusnya… Dan banyak jalur negatif, tanjakan dan turunan terjal, mungkin nanti ada yang camping dengan posisi mobil miring. Pokoknya off-road terus sampai keluar dari Pegunungan Meratus,” ucap Syamsir Alam saat briefing malam sebelum start. Hasil briefing Syamsir sebagai Leader, buat seluruh peserta IOX-Meratus Expedition (MEX) 2016 makin semangat dan tidak sabar.

Bukan hanya trek edan. Bisa dibilang ini adalah ide gila untuk membuat suatu event besar. Bagaimana tidak, persiapan event ini hanya dua bulan kurang, setelah berlangsungnya event IOX Jogja-Bali (Joli) pada 28 Febuari kemarin. IOX Adventure Club mendapat tawaran untuk mengadakan event sejenis dari Indonesia UTV Club. Berhubung bekas lumpur saat IOX Joli belum ‘mengering’, event MEX pun jatuh pada tanggal 16-24 April 2016.

“Event off-road ekspedisi panjang seperti IOX ini sangat menarik, terbukti saat ikut di Joli kemarin sangat menghibur. Dari sinilah kemudian timbul ide dengan teman-teman, untuk membuat event yang akhirnya diberi nama MEX,” ucap H. Samsudin yang tahun ini mulai mengurangi kiprahnya di event kompetisi speed off-road.

Sepulangnya dari IOX, pria yang akrab disapa H.Sam ini pun mengajak Syamsir Alam untuk mencari lokasi trek. Beruntung, Kalimantan Selatan punya Pegunungan Meratus, dan setelah di survei treknya sangat cocok untuk medan yang ekstrem. “Treknya sangat cocok untuk off-road hardcore, semua handicap lengkap dan istimewa!” celetuk Syamsir.

“Ini event 8 hari, dengan jarak 370 kilometer. Seperti yang dibilang, jalur treknya sangat ekstrem atau hardcore. Saya sudah 15 tahun off-road seperti ini, belum pernah ketemu trek segila dan selengkap ini handicapnya,” jelas Syamsir. Oleh karena itu semua peserta harus siap, baik kendaraan dan mental personalnya.

Untuk event MEX, ada dua kategori peserta seeded dan non-seeded. Peserta seeded rata-rata diambil dari kemampuan kendaraan, dan mental juga jam terbang personalnya. Ada 46 kendaraan peserta IOX yang ikut dalam MEX, pastinya berada di kelas seeded. Dan selebihnya dinilai dari jam terbang off-roadnya. “Ada 30 peserta seeded yang dipilih untuk ditaruh di depan, dan rata-rata lulusan IOX,” ucap Syamsir.

Hari yang dinanti pun tiba, event ekspedisi delapan hari menjelajah hutan Pegunungan Meratus akan berlangsung. Pagi hari tanggal 16 April, seluruh peserta pun sudah line up di area Lapangan Murjani, Banjarbaru. Total 86 kendaraan dengan warna seragam, yaitu orange khas IOX memenuhi alun-alun dari Kota Banjarbaru.

Di Lapangan Murjani hadir juga Sahbirin Noor selaku Gubernur Kalsel, untuk melepas perjalanan peserta MEX. “Event seperti ini sangat bagus untuk memperkenalkan potensi wisata alam di Kalsel. Terlebih masih banyak wisata alam yang masih belum terjamah, karena lokasinya berada di dalam hutan. Lewat gelaran olah raga off-road seperti ini, diharapkan dapat cerita dan pengalaman menarik buat seluruh peserta saat berada di Kalsel,” ucapnya.

Akhirnya peserta pun dilepas jam 10 pagi, setelah menikmati santap pagi ketupat kandangan, dan beberapa persembahan tarian adat Kalimantan seperti Radap Rahayu, Selendang Mandau, Giring-giring dan Tari Mandau. Satu per satu, peserta pun meninggalkan Lapangan Murjani.

Setelah mengaspal 20 kilometer, akhirnya rombongan tiba di daerah Awang Bangkal. Aspal pun sudah berakhir, gantinya jalan berbatu yang biasa dikenal dengan sebutan macadam. Setelah jalan beberapa kilo, jalan permukaan batu mulai menipis. Permukaan tanah Kalimantan Selatan pun mulai jadi pijakan ban-ban kasar peserta MEX2016.

Sepanjang jalan off-road, peserta MEX selalu disambut oleh sungai-sungai kecil. Kadang jembatannya sudah lapuk dan ambruk. Di sini mulai kebayang apa yang diucapkan Syamsir saat briefing tadi malam, “Handicapnya V,V,V,V, dan W…”. Kebanyakan jembatan sempit, kadang hanya terdiri dari dua batang kayu, dan pas untuk satu badan kendaraan off-road yang rata-rata cukup lebar. Antrian pun mulai …

Tugas navigator masih ringan, cukup memberi aba-aba dari depan kendaraan. Setelah melalui beberapa jembatan, mulai batang kayu jembatan hanya satu bagian. Pertanda kendaraan roda empat sudah tidak sampai sini, hanya warga kampung yang melintas pakai motornya. Selang sejam masuk trek off-road, beberapa navigator mulai pakai sarung tangan, dan menarik tali winch.

Anak-anak sungai sudah tidak bisa diseberangi dengan jembatan. Puluhan kendaraan peserta MEX harus nyemplung ke anak sungai-sungai kecil tersebut. Gerusan ban-ban kasar pun membuat handicap semakin dalam dan sulit dilalui. Padahal ini adalah trek pemanasan menuju desa Sumber Baru, tempat basecamp hari pertama!

Ternyata, trek ‘sarapan’ ini, sudah jadi menu berat. Tidak cuma handicap V saja yang menyambut peserta MEX. Batang-batang pohon tumbang pun, jadi obstacle sepanjang jalan. “Heran, biar di dalam hutan juga, ternyata banyak polisi tidurnya ya… Mungkin ini namanya polisi tidur hutan ya,” celetuk H. Irawan atau akrab disapa Haji Iroh dari team Harimau Bandung.

Alhasil, desa Sumber Baru pun tidak tembus hari itu juga. Syamsir Alam sebagai Leader perjalanan, memutuskan untuk buka tenda di tengah trek. Pilihan tepat sebenarnya, karena di depan handicap V yang menanti lebih sulit dan dalam. Malam hari, hampir semua rombongan line-up di basecamp dadakan ini.

Pagi hari, perjalanan pun dilanjutkan dengan kondisi tanah sudah becek karena hujan cukup deras semalam. Baru jalan beberapa meter, sudah harus winching di tanjakan cukup panjang. Rasanya sarapan pagi itu langsung digunakan oleh tubuh dengan baik.

Baru jalan beberapa ratus meter, sudah ada handicap V dengan aliran sungai cukup lebar. Turun kedalam sungainya hampir vertikal, walaupun jaraknya sekitar satu meter. Dasar sungai lumpur, pasti bakal hancur dilewati puluhan mobil.

Benar saja, baru dilewati 10 mobil lebih. Lumpurnya sudah sedalam ban ukuran 35”. Titik winching harus pindah tiga kali. Sebenarnya untuk keluar dari sungai tidak terlalu terjal, tapi winch harus kerja pakai double line, lumpurnya berat!

Setengah hari sudah untuk lewat dari handicap yang satu ini, terakhir adalah team Semut Merah yang berhasil keluar dari jalur tersebut. Peserta lainnya terpaksa cari jalur baru, karena jalur tertutup dengan pohon besar yang rubuh. Akibat terdorong oleh badan Land Rover Hornet milik Andre.

Nasib peserta di belakang, harus buka jalur baru. Untungnya kontur tanah di jalur ini memungkinkan untuk buka jalur baru. Walaupun harus belok sedikit jauh dari titik handicap V sebenarnya. “Kira-kira jalurnya 200 meter di sebelah handicap yang tertutup pohon rubuh tadi. Tapi bukannya gampang, justru buka jalan baru begini, lumpurnya malah lebih dalam…” celetuk Karolis dari team Elang Jawa.

Baru jalan beberapa ratus meter, jumpa lagi dengan aliran sungai kecil seperti U-Turn atau putaran balik arah. Namun karena dasarnya lumpur, jadi sulit dilalui. Di dasar tersimpan beberapa gelondongan balok kayu cukup besar. Balok kayu di dasar lumpur, akhirnya memblokir jalan kendaraan Media 1, Taft Rocky milik Ziad. Kendaraan yang saya tumpangi ini pun terkunci di sungai, dan sulit dikeluarkan.

Beruntung team Buaya yang sudah berhasil lolos di depan, tidak langsung pergi. Toyota Bundera milik Bupati Lahat, H Aswari pun balik arah untuk bantu tarik dengan winch tunggangannya. Namun hasilnya nihil, kendaraan Media 1 tidak bergeming. Alhasil, tiga kendaraan lain milik Alpian Piuk, Wawan Dalbo dan Iskandar di team Buaya ikut peran. Butuh empat kendaraan, baru Taft itu bisa ditarik dari sungai kecil ini.

Di depan tinggal dua handicap lagi yang menanti rombongan sebelum tiba di desa Sumber Baru. Salah satunya adalah handicap V kecil dan dalam, ditambah lagi tidak ada winching point di depannya. “Di handicap ini, peserta wajib tunggu team yang ada di belakangnya sampai lewat. Paling tidak harus ada satu kendaraan yang jadi winching point,” jelas Syamsir Alam saat briefing tadi pagi.

Dinding V turun dan naik terlalu curam, ditambah lagi ada balok kayu di dasarnya yang tertutup lumpur. Cukup susah juga untuk mengeluarkan satu kendaraan dari sini, apalagi kalau mengandalkan winching point yang jauh, atau pakai ground anchor. Untuk ngeluarin satu kendaraan Toyota Bundera team Buaya, tiga kendaraan team Tarantula yang semuanya menggunakan Vitara, harus jadi winching point. Edan!

Hingga malam hari, hanya sekitar 7 team yang berhasil tembus ke desa Sumber Baru. Selebihnya, peserta masih pada berjuang melewati ketiga handicap V yang sulit. Kabar malam itu, masih banyak peserta yang terjebak di handicap V pohon rubuh dan winching point jauh.

Sebenarnya desa Sumber Baru ini adalah persinggahan, yang dijadwalkan setengah hari sebelumnya. Namun apa daya, karena trek off-road itu sulit diprediksi. Jadilah desa kecil ini jadi basecamp hari kedua. Besok pagi, jalur trek mulai menanjak memasuki Pegunungan Meratus!

“Wah, jalur menanjak ke Meratus itu sangat berat, nanti ada 11 tanjakan yang harus dilalui. Setiap tanjakan susah sekali di capai untuk sampai di puncak gunung Tawakan,” ucap salah satu warga setempat di desa Sumber Baru. Penasaran seperti apa trek menuju puncak Tawakan dan foto-foto serunya? Tunggu cerita serunya di edisi JIP bulan depan…!

 


Bengkel WILLYAMS RACING 4x4

Spesialis : Parts & ACCESSORIES

Jl. Laswi No. 87A Bandung. T: (022) 7330788

Bengkel Volcano Motor Sport

Spesialis :

Jl. Mohammad Toha 276 Bandung T: (022) 5205658

Bengkel Welirank 4x4

Spesialis :

Jl. Komando Hayam Wuruk 181 Petak Pacet Mojokerto, Jawa Timur
JIP [TV]
Video King Of The Hammers clip by JIP
JIP IMAGE
Modifikasi Off-road | Suzuki Escudo 1996
Modifikasi Off-road | Suzuki Escudo 1996
JIP TWITTER FEED
Review Produk