KANAL 4Event

JIP - Tenaga dikuras habis setiap hari, semua asupan kalori terbakar cepat, dan berat badan turun beberapa kilo. Pakaian penuh lumpur sudah berhari-hari tidak ganti, dan jangan ditanya kapan terakhir mandi… Tidak ingat lagi pastinya, juga berapa ratus titik winching point yang digunakan, serta sudah berapa kali ngebengkel di hutan.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_04_06_MX%20(3).jpg

Antara emosi, adrenalin dan kejadian diluar logika sudah campur aduk. Hanya semangat, solidaritas dan pikiran tenang, yang mendorong seluruh peserta dapat keluar dari Meratus. Inilah yang dirasakan seluruh peserta IOX-Meratus Expedition (MEX) 2016, dibalik kejadian itu, semua menyimpan kesan dan perasaan puas luar biasa!

 Dari total 374 Kilometer trek MEX 2016, ada dua kilometer trek yang sangat ‘maut’. Bagaimana tidak, dalam dua kilometer, peserta harus ‘berdarah-darah’ untuk sampai di puncaknya, yaitu daerah Tawakan, Pegunungan Meratus. Dua kilometer yang harus dilalui berhari-hari, dan dikenang seumur hidup dengan ratusan kisah.

“Inilah icon dari MEX, dan yang mau merasakan benar-benar off-road ekstrem, ini dia tempatnya,” ucap Albertus Hariono penunggang Defender 90 dari team Naga. “Karena kemarin potensi wisata off-roadnya sudah di dapat pas IOX-JoLi, sekarang giliran potensi trek dengan handicap ekstrem yang disuguhkan ke peserta,” tambahnya.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_04_06_MX%20(5).jpg

Pada edisi JIP sebelumnya, pembahasan event MEX 2016 ini sudah sampai di malam hari ke-2, hingga sampai Basecamp 2 di Desa Sumber Baru. Trek yang seharusnya hanya pemanasan menuju Meratus, sudah bikin kelabakan. Hanya 46 kendaraan peserta yang bisa sampai di Sumber Baru di hari kedua, sisa 30-an lagi masih berjibaku di trek pemanasan.

Hari ketiga, tanggal 18 April hari Senin, adalah awal kisah-kisah seru MEX 2016 dimulai. Kalau orang kota adalah istilah ‘I hate Monday!’, tapi saat di MEX yang berlaku adalah ‘We love Monday!’. Terpapar jelas, dari wajah-wajah ceria dan semangat peserta pagi itu. Seakan semua sudah tidak sabar untuk bersenang-senang di dalam Meratus.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_05_30_MX%20(15).jpg

Sekitar 500 meter belok dari Desa Sumber Baru, ada satu spot sinyal telepon. Letaknya di kaki bukit, di bawah satu pohon besar. Tentu, ini dimanfaatkan seluruh peserta untuk memberi kabar keluarga di rumah, karena sejak start, baru hari ketiga inilah sinyal telepon tertangkap. Setiap kendaraan yang sampai di area tersebut pun berhenti sejenak. Ada yang telepon sambil jongkok di bawah pohon, ada yang sambil jalan-jalan di sekitar situ, bersandar di pohon.

Tapi, sepertinya pada lupa untuk memberi kabar ke keluarga, kalau kemungkinan besar keluar dari Meratus seminggu ke depan. Jadi tidak heran, kalau Leader ekspedisi MEX sempat jadi operator layanan keluhan para istri peserta, setelah hari finish.

Dan semua peserta pun senang dengan kondisi seperti ini. “Ya harusnya, off-road tu seperti ini, bebas dari sinyal, Suasananya lebih ngariung, gak ada lagi tuh yang mainan hape saat berhenti atau camping di basecamp,” celetuk Yuri Kusweri dari Team Tarantula.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_06_16_MX%20(18).jpg

Setelah puas dengan telepon, rombongan pun lanjut mendekati pegunungan Meratus. Dari kejauhan, Meratus terlihat sangat indah. Barisan bukit-bukit menghampar panjang, berpadu sempurna dengan cerahnya langit biru siang itu. Seakan menyirnakan sejenak bejatnya trek yang akan dihadapi.

Perjalanan akhirnya masuk ke lokasi perkebunan sawit, di sana rupanya sudah disediakan makan siang, untuk seluruh peserta MEX 2016. Menu sop sapi jadi santapan lezat siang itu. Semua pun makan dengan lahap, saat yang tepat buat menimbun kalori, sebelum dihabiskan di dalam trek.

Setelah satu jam menghabiskan waktu makan siang, rombongan peserta MEX 2016 kembali bergerak. Baru bergerak kira-kira 500 meter, kendaraan yang saya tumpangi kembali berhenti. Sudah pasti di depan ada handicap, dan sudah pasti akan mulai kerja berat …

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_06_16_MX%20(20).jpg

Sambutan 15 Handicap V

Tidak ingat pasti sebenarnya, kalau lihat petunjuk buku tulip MEX, ada 15 handicap V untuk sampai di puncak Gunung Tawakan, Meratus. Tapi rasa-rasanya lebih, karena sudah pasti banyak bonus-bonus V. Ada beberapa anak sungai yang jembatannya sudah rubuh, belum lagi anak-anak sungai yang jadi lebih dalam.

Sebelum masuk bibir puncak Tawakan, inilah deretan handicap yang harus di lalui. Pada handicap V pertama, sebenarnya sudah ada jembatan dua sisi batang kayu yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Namun, karena jalur ini hanya dilalui oleh para ojek Meratus, terlihat hanya salah satu sisi saja yang dirawat. Bagian sebelahnya sudah melintang tidak karuan.

Untungnya, rombongan masih berdekatan jaraknya, dan makanan siang yang baru saja disantap masih memberi banyak energi. Jadi navigator dari beberapa team bekerja sama, membuat sisi jembatan baru. Jadi kendaraan peserta tidak harus turun ke dalam V. Lumayanlah… setidaknya menghemat waktu beberapa jam dari sekian banyak handicap yang ada.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_04_54_MX%20(10).jpg

Hampir semua peserta, baru pertama kali ke Meratus. Sebagian peserta dari Kalsel sudah sesekali ke Meratus. Tapi belum pernah lewat dari Sumber Baru. Seringnya masuk dari Inijoa. “Jalur dari Inijoa tidak seberat ini, tapi tetap banyak juga handicap V,” ucap H.Deden dari Team Naga.

Sekitar jam 2 siang, langit pun berubah jadi kelabu yang tadinya panas terik. Hujan kemudian turun dengan derasnya, kadang sesekali mereda, tapi terus hujan deras hingga sore hari. Anak-anak sungai dan handicap V pun berubah jadi aliran air sungai cukup dalam.

Tentu ini tidak melunturkan semangat peserta MEX 2016, dan terus bergerak walaupun cuaca tidak bersahabat. Dan terus bergerak sejauh mungkin. Dari info lewat radio komunikasi, rombongan paling depan sudah ada di Desa Kahelaan. Itu tandanya sudah sekitar 16 kilometer meninggalkan desa Sumber Baru, dan matahari sudah mulai terbenam.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_04_54_MX%20(6).jpg

“Hayo, buruan nyeberang… air sungai sudah mulai naik. Jangan ada yang di atas sungai,” ucap Hariono lewat radio komunikasi. Di belakang team Naga ada team Leopard yang sedang berusaha naik ke atas sungai, dan satu kendaraan team Tarantula baru masuk sungai. Benar saja, air sungai besar yang berada di sebelah Desa Kahelaan naik dengan cepat, untung kendaraan peserta yang sudah berada diatas air dapat keluar tepat waktu. Tidak lama, air kemudian naik hingga 3 meter lebih. “Ini baru pertama kali airnya naik setinggi ini,” jelas salah seorang warga Desa Kahelaan.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_05_30_MX%20(12).jpg

Karena langit sudah mulai gelap, diputuskan untuk camping di daerah Desa Kahelaan. Ada dua team yang sudah berada di seberang sungai Kahelaan ini. Sisanya, menunggu hingga sungai surut. “Semoga besok pagi airnya sudah surut, biar bisa langsung nyeberang,” ucap Ariska dari team Badak.

Tiba-tiba ada kabar mengejutkan dari radio komunikasi, sayang suaranya putus-putus di kendaraan yang saya tumpangi. Untung, info ini dapat ditangkap bersih oleh Leader MEX, dan bisa diteruskan ke peserta lainnya. Rupanya Defender yang dikendarai Iskandar Zulkarnain dari team Buaya-2 jatuh ke dalam sungai. “Saya terpeleset, padahal tinggal sedikit lagi lewat jembatannya. Bagusnya kerusakan mobil tidak parah, padahal dasar jembatannya jauh, sekitar 5 meter lebih,” ucap Iskandar saat dijumpai beberapa hari setelahnya.

Esok hari, air sungai pun sudah surut, kurang dari dengkul orang dewasa. Giliran menuntaskan belasan handicap V, sebelum sampai di puncak Tawakan. Beragam jenis handicap V ada sepanjang jalan menuju Puncak Tawakan, mulai dari yang terjal, miring, belok, dalam, berlumpur atau berbatu.

Beauty And The Beast Of Meratus

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_04_54_MX%20(9).jpg

Sore hari… akhirnya tiba di tanjakan dua kilometer menuju puncak Gunung Tawakan, Meratus. Baru naik 100 meter, winch milik Leader MEX sudah jebol. “Ini dia the beauty of Meratus…!” teriak Bucek yang mengendarai kendaraan Co-Leader peserta MEX.

Alur air mengikis permukaan tanah hingga sedalam satu meter lebih, jadi handicap dominan sepanjang 2 kilometer menuju puncak Tawakan. Ini membuat seluruh peserta kelabakan melewatinya, karena posisi kendaraan selalu miring ke kiri atau kanan, dan harus rajin-rajin memindahkan titik winching point.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_06_16_MX%20(19).jpg

“Ini tidak cuma berat, tapi juga technical. Salah sedikit mobil bisa tumpah,” ucap Ceri Wibisono dari team Leopard. Di beberapa bagian hanya pas untuk sepeda motor atau pejalan kaki. Jadi harus pindah ke jalur baru di sebelahnya, posisi kendaraan yang miring harus bisa keluar dari alur air, tentunya dibantu winch. Pemandangan kendaraan peserta rebah di tanah sudah jadi hal biasa, saat menuju puncak Tawakan ini.

Judul ‘Hardcore Trail’ pada baju hari kelima, jadi gambaran yang tepat untuk kondisi trek. Winch benar-benar jadi peran penting menuju puncak Tawakan. Tapak-tapak kasar ban ekstrem Simex, hanya bisa membantu sedikit kendaraan maju. Tidak heran, kalau ada tujuh unit winch Warn 8274 utuh dikirim ke dalam trek ini. Bahkan, winch belakang juga harus bekerja baik, untuk menahan kendaraan agar tidak rebahan di tanah. Sangat technical, tidak bisa sembarangan tentukan winching point. Kadang setiap handicap, harus ganti paling tidak dua titik winching point.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_05_30_MX%20(14).jpg

Setelah berjuang mati-matian hingga satu kilometer lebih. Peserta dihadapkan dengan handicap tricky lainnya. Karena handicap ini, tanahnya longsor di dua sisi samping kendaraan, dan pas di ujung-ujung roda. Korban pertamanya tunggangan milik Agus Salim, yang terperosok ke sisi bagian kanan. Setelah itu, handicap ini diberi julukan ‘Jembatan Shiratal Mustaqim’.

Jarak jembatan shiratal mustaqim ini kurang lebih hanya 4 meter. Tapi butuh waktu lama untuk melewatinya. Paling cepat sekitar 40 menit, bahkan ada yang dua jam. “Di sini kita tidak bisa traksi, dan harus mengandalkan winch untuk bergerak maju. Karena kalau pakai traksi, pasti ban langsung terperosok ke salah satu sisi. Bagian belakang kendaraan juga harus ditahan winch, biar pantat si mobil tidak jatuh.” Jelas TB. Adhi yang mengemudikan Wrangler JK di team Badak.

Dan sekitar 200 meter sebelum puncak, ada handicap yang menguras keringat. Handicap ini dinamai ‘lorong’ oleh peserta MEX 2016. Panjang lorong ini sekitar 100 meter, dimensinya pas sekali dengan badan kendaraan. Tinggi dinding kedua sisi sampingnya, rata-rata lebih tinggi dari atap kendaraan off-road dengan ban 35”.

Mulut lorong banyak dihindari peserta, yang kebanyakan masuk dari sampingnya, setelah memotong 10 meter badan lorong. “Saya korban pertama kali. Karena kondisi hujan deras, tidak terlihat mana jalan yang lebih enak. Karena jalan semua tertutup aliran air, pilihan enak adalah  langsung masuk lorong dari mulutnya. Ternyata, dimulut lorong terdiri dari batuan besar di dasar tanah dan dindingnya. Jadi babak belur deh bodi mobil,” ucap Hariono yang menunggangi Defender kesayangannya.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_04_54_MX%20(8).jpg

Potong dari samping badan lorong pun hampir sama sulitnya. Bedanya, bodi kendaraan tidak remuk dijepit dinding batu. “Tapi turun ke dalam lorong ini juga sulit, saya kebalik dua kali saat turun ke dalam lorong ini. Karena hujan terlalu deras, sulit untuk mencari titik winching point yang benar,” ucap H. Dirman yang menunggangi Defender 90.

Menelusuri lorong, winching point pun susah diraih. “Winching point ada di sisi bukit, dan posisinya jauh diatas. Susah buat cari winching point, apalagi sudah banyak pohon yang kecabut. Gak cuma mobil, navigatornya saja harus ngewinch juga buat naik ke atas bukit,” jelas Imam navigator dari kendaraan Media 2.

Walaupun ‘disiksa’, semua peserta sangat puas dengan trek MEX 2016 ini. “Aku pengen off-road yang seperti ini lagi, nikmatnya tiada tara…” kata Wahyu Lamban yang bergabung di team Kancil menggunakan VX80. Semua peserta kagum dengan ‘indahnya’ trek Meratus.

Rata-rata peserta sudah punya jam terbang off-road yang tinggi, tapi baru kali ini merasakan sensasi yang luar biasa. “Sejak tahun 2002 saya ikut off-road, baru kali ini ketemu trek yang luar biasa ekstrem. Mantap!” celetuk Tedy S pengendara Land Cruiser VX dari team Harimau. “Dari pertama kali IOX, belum pernah ada trek seasik ini…” tambah Yudi Suganda dari team Semut Merah.

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_05_30_MX%20(16).jpg

“Satu kilometer tiga hari! Luar biasa…” ucap Ery Wiraga salah satu anggota team Harimau. “Pernah cuma bergerak 100 meter sudah camping, besoknya baru jalan 500 meter sudah camping lagi. Ini treknya satu jalur, begitu ada yang trouble, kita tidak bisa salip,” terang Handi Kiatarto dari team Elang Jawa. Jalan yang sempit membuat peserta sulit keluar dari trek 2 kilometer menuju puncak Tawakan, karena tidak bisa menyalip kendaraan di depan saat ada masalah.

“Perbekalan sudah menipis hanya cukup buat dua hari kedepan saja, karena salah perhitungan,” ucap Musa ‘Dody’ Idishah dari team Macan Kumbang.  Wajar saja, karena harusnya target finish hari Sabtu di Pagatan, Batu Licin. Hanya sekitar 20 peserta yang berhasil sampai di Puncak Gunung Tawakan, Meratus. “Perbekalan sebenarnya masih aman, tapi cuma sampai hari Minggu. Kita tetap berusaha, sampai di puncak secepat mungkin,” jelas H. Bahrani dari team Elang Borneo.

Finish!

Akhirnya beberapa peserta sampai juga di Puncak Meratus. Lega rasanya, seolah ‘finish’ juga banting tulang di trek Meratus. Kabarnya, tinggal trek ringan menuju daerah Inijoa. Nyatanya, tetap saja masih ada menu penutup untuk sampai ke Inijoa.

Masih banyak handicap V yang harus dilalui. “Kalau tidak salah hitung, lebih dari 20-an  V yang nanti dilalui, mantap bukan?” ucap H. Welly Susanto dari team Naga. Kabarnya, jalur ini berubah jadi ekstrem, saat dilalui rombongan peserta bagian tengah ke belakang. “Dari Batu Bulan jalannya sudah ringan, dan sampai Inijoa juga sudah tidak berat,” ucap salah satu warga desa di Batu Bulan. Tapi kenyataan berkata lain…

http://jip.co.id/gallery/jip/gallery/large/2017_01_03_09_06_16_MX%20(17).jpg

Lewat dari desa Batu Bulan, mulai banyak terlihat Toyota FJ40. Ini kendaraan yang biasa dipakai warga desa buat angkut hasil dulangan emas. Semua Toyota ini hanya bermodalkan ban M/T, tandanya trek yang dilalui memang tidak berat. Aturannya seperti itu. Meski begitu, banyak juga peserta yang babak belur melalui trek ini, lantaran alur-alur semakin dalam akibat garukan ban ekstrem.

Hanya sedikit yang bisa sampai di Inijoa tepat waktu. Karena, begitu sampai di Inijoa, peserta yang tertinggal bisa langsung potong jalan aspal menuju daerah Pantai Pagatan, Batulicin. Lokasi garis finish untuk peserta MEX 2016. Hanya empat team yang berhasil sampai di Inijoa sehari sebelum finish. Team itu adalah Naga, Leopard, Badak, dan Tarantula. Selebihnya masih ada di dalam trek, dan ada juga yang menyusul tepat saat hari finish.

“Sekarang harusnya kita finish di Pantai Pagatan, tapi nyatanya kita masih di dalam trek Meratus. Dan justru… di sini rupanya jauh lebih asik, tidak kalah seru dengan pesta pantai di Pagatan sana. Di sini kita menikmati finish dengan cara sendiri,” ucap Wahyu Lamban yang terlihat menikmati sekali di dalam Meratus.

“Yang penting saat ini adalah peserta semangat, kita akan bantu sepenuhnya kebutuhan peserta selama di dalam trek. Helikopter akan standby untuk bawa apa saja kebutuhan peserta di dalam trek. Intinya fokus saja, kapan pun finishnya akan ditunggu oleh panitia di Batulicin, mau finish minggu depan juga akan ditunggu,” ucap Syamsir Alam yang beberapa kali kembali ke trek menggunakan helikopter untuk memberi semangat kepada peserta yang ada di dalam trek.

Beragam kisah dan kenangan pasti terjadi di dalam trek Meratus ini. Dan banyak yang tidak dapat terekam, dan dituangkan dalam cerita di sini. Pastinya, semua peserta MEX 2016 akan mempunyai kisah yang tidak akan hilang beberapa tahun ke depan. Dan akan jadi cerita menarik dibincangkan setiap saat.


Bengkel WILLYAMS RACING 4x4

Spesialis : Parts & ACCESSORIES

Jl. Laswi No. 87A Bandung. T: (022) 7330788

Bengkel Volcano Motor Sport

Spesialis :

Jl. Mohammad Toha 276 Bandung T: (022) 5205658

Bengkel Welirank 4x4

Spesialis :

Jl. Komando Hayam Wuruk 181 Petak Pacet Mojokerto, Jawa Timur
JIP [TV]
Video King Of The Hammers clip by JIP
JIP IMAGE
Event | Green International Xtreme Adventure (GIXA) 2016
Event | Green International Xtreme Adventure (GIXA) 2016
JIP TWITTER FEED
Review Produk